Wednesday, December 19, 2012

Presiden Iran Kirim Surat pada George W. Bush pd tahun 2006 (1)




Surat ini diberikan kepada Presiden Amerika Serikat George W. Bush melalui kedutaan Swiss di Tehran pada tanggal 8 Mei 2006. Aslinya surat ini ditulis dalam Bahasa Persia, kemudian diterjemahkan ke Bahasa Inggris.
Surat asli dalam Bahasa Persia tersedia di
situs presiden, sedangkan terjemahan Bahasa Inggris dapat dilihat pula di situs tersebut.


Bagian pertama
Dalam beberapa waktu saya sempat berpikir, bagaimana mungkin dapat dibenarkan keberadaan berbagai kontradiksi yang terjadi di dunia internasional, kontradiksi yang tidak dapat diingkari dan selalu menjadi pembahasan masyarakat khususnya di kalangan politik dan mahasiswa. Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab tentang hal ini. Karena itu saya memutuskan untuk menanyakan sebagian kontradiksi dan pertanyaan itu. Semoga akan ada kesempatan untuk menjawab masalah tersebut.
Bagaimana mungkin, pengikut Nabi Isa AS yang mengaku berpegang teguh kepada hak-hak asasi manusia (HAM), menjadikan Liberalisme sebagai model peradaban, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap perluasan senjata nuklir dan pembunuhan massal, menjadikan peperangan melawan terorisme sebagai slogannya dan berusaha membentuk masyarakat yang satu dan universal—masyarakat yang akan diperintah oleh Nabi Isa AS dan orang-orang yang saleh di muka bumi.
Namun pada saat yang sama, berbagai negara diserang. Jiwa, kehormatan dan keberadaan insan dihancurkan. Sebagai contoh, hanya karena diduga pelaku kriminal berada di sebuah desa, kota atau dalam sebuah kafilah, seluruh desa, kota atau kafilah itu dihancurkan dan dibabat habis. Atau karena diduga sebuah negara memiliki senjata pemusnah massal, lalu negeri itu dikuasai. Ratusan ribu masyarakat negara itu tewas, sumber-sumber air, pertanian dan industri rusak dan sekitar 180.000 pasukan militer ditempatkan di sana.
Kehormatan rumah-rumah penduduk telah dihancurkan. Mungkin negara itu menjadi terbelakang hingga 50 tahun lebih. Dengan anggaran belanja berapa? Dengan menghabiskan miliaran dolar dari harta kekayaan sebuah negara dan beberapa negara lainnya. Dengan mengirimkan puluhan ribu pemuda sebagai pasukan penyerang, menempatkan mereka di arena pembunuhan, menjauhkan mereka dari keluarganya dan mengotori tangan mereka dengan darah orang lain. Tekanan demikian berat menimpa jiwa mereka sehingga setiap hari, sebagian mereka melakukan tindakan bunuh diri. Ketika mereka kembali ke negaranya, mereka tersiksa, tertekan dan bahkan menderita berbagai penyakit. Sebagian mereka terbunuh dan jenazah mereka dikembalikan kepada keluarga mereka.
Dengan alasan keberadaan senjata pemusnah massal, telah terjadi sebuah tragedi besar untuk negara dan penduduk yang diinvasi. Kemudian baru terungkap bahwa senjata pemusnah massal yang dimaksudkan tidak pernah ada.
Memang Saddam Hussein adalah seorang diktator dan pembunuh. Namun tujuan perang yang dilakukan bukan untuk menumbangkannya tapi untuk menemukan senjata pemusnah massal yang sudah diumumkan sebelumnya. Saddam akhirnya tumbang dan masyarakat merasa senang akan hal ini. Saya tambahkan pula bahwa dalam peperangan dengan Iran, Saddam telah dibantu dan dibela oleh Barat.
Bagian kedua
Tuan Presiden,
Mungkin Anda tahu bahwa saya adalah seorang dosen. Mahasiswa saya sering menanyakan bagaimana menyesuaikan aksi-aksi ini dengan nilai-nilai yang telah saya sebut di awal surat tentang komitmen terhadap ajaran
Nabi Isa AS, Nabi penyeru perdamaian dan kasih sayang?
Para tertuduh dipenjarakan di
Guantanamo tanpa proses peradilan, mereka tidak bisa memiliki pengacara, keluarga tidak bisa menjenguk, mereka diisolir di negeri yang jauh dari negaranya dan sama sekali tidak ada pengawasan internasional untuk mereka. Tidak jelas apakah mereka adalah tahanan, tawanan perang, tertuduh ataukah orang-orang yang telah dijatuhi hukuman.
Para pengawas Uni Eropa mengakui adanya penjara-penjara misterius di Eropa. Saya tidak dapat menyelaraskan penculikan dan penahanan orang-orang dalam penjara-penjara misterius itu dengan satu pun sistem peradilan yang berlaku di dunia. Dan saya tidak pernah mengerti bagaimana aksi-aksi yang telah dilakukan sesuai dengan nilai-nilai yang telah saya sebutkan di atas, misalnya dengan ajaran-ajaran Nabi Isa AS ataukah hak-hak asasi manusia ataukah dengan nilai-nilai Liberalisme?
Para pemuda, mahasiswa dan masyarakat banyak mempertanyakan tentang fenomena bernama Israel. Pasti sebagian dari pertanyaan-pertanyaan itu telah Anda dengar. Dalam sejarah tercatat banyak negara yang telah dijajah. Namun salah satu fenomena kontemporer masa kita adalah pembentukan sebuah negara baru dengan masyarakat yang baru pula.
Para mahasiswa berkata, 60 tahun yang lalu tidak ada negara dengan nama ini. Mereka menunjukkan dokumen-dokumen dan peta geografi dunia kuno sambil berkata, kami telah berusaha sedemikian rupa mencarinya namun kami tidak menemukan sebuah negara yang bernama Israel.
Saya terpaksa menuntun mereka agar mempelajari lagi tentang
perang dunia pertama dan kedua.
Sekali waktu seorang mahasiswa berkata, pada perang dunia kedua, puluhan juta manusia tewas. Berita-berita perang dengan cepat disebarkan oleh kedua belah pihak yang berperang. Masing-masing memberitakan kemenangannya dan kekalahan lawan. Setelah perang dunia kedua selesai diklaim bahwa enam juta orang Yahudi telah tewas. Enam juta orang yang sedikitnya berasal dari dua juta keluarga.
Kita andaikan saja bahwa berita ini benar. Apakah kesimpulan logisnya adalah pembentukan sebuah negara Israel di kawasan Timur Tengah dan atau membela mereka habis-habisan?
Bagaimana menganalisa dan menginterpretasikan fenomena ini?
Bagian ketiga
Tuan Presiden,
Anda pasti telah mengetahui bagaimana
Israel terbentuk dan akibat yang ditimbulkannya:
  • Dengan terbantainya ribuan jiwa.
  • Dengan mengungsikan jutaan jiwa penduduk asli kawasan.
  • Dengan penghancuran ratusan ribu hektar sawah, kebun zaitun dan penghancuran kota-kota dan tanah-tanah subur.
  • Tragedi ini tidak hanya terbatas pada masa pembentukan saja.
Sangat disayangkan selama enam puluh tahun hal ini terus berlanjut.
Rezim yang dibentuk ini bahkan tidak memiliki rasa belas kasihan terhadap anak-anak. Rumah-rumah dihancurkan, rencana teror tokoh-tokoh Palestina diumumkan dan ribuan orang-orang Palestina dipenjarakan. Fenomena ini pada abad-abad terakhir bila tidak dikatakan sulit dicari tandingannya maka tentunya tidak ada bandingannya.
Pertanyaan besar lainnya dari masyarakat umum adalah: Mengapa rezim yang seperti ini masih harus dibela?
Apakah pembelaan terhadap rezim ini sesuai dengan ajaran
Nabi Isa AS atau Nabi Musa AS atau nilai-nilai Liberalisme?
Apakah memberikan hak untuk menentukan nasib sendiri di tanah
Palestina kepada pemilik asli baik mereka yang tinggal di Palestina maupun di luar, baik mereka itu Islam, Yahudi dan atau Kristen, bertentangan dengan demokrasi, hak-hak asasi manusia dan ajaran-ajaran para Nabi?
Bila tidak bertentangan, mengapa usulan referendum tidak pernah disetujui?
Akhir-akhir ini, dengan pilihan rakyat
Palestina, telah terbentuk sebuah pemerintahan. Semua pengawas yang netral telah mengukuhkan bahwa pemerintah tersebut dipilih oleh rakyat. Dengan rasa tidak percaya, pemerintahan terpilih ditekan sedemikian rupa agar mengakui sebuah negara bernama Israel dan tidak lagi meneruskan perjuangan serta melanjutkan program pemerintahan sebelumnya.
Seandainya pemerintahan terpilih ini sejak awal mengumumkan kebijakannya seperti yang diinginkan penekan, apakah masyarakat Palestina akan memilih mereka? Apakah sikap semacam ini di hadapan pemerintahan Palestina sesuai dengan nilai-nilai di atas?
Demikian pula, masyarakat selalu bertanya-tanya mengapa resolusi PBB yang telah diputuskan di dewan keamanan PBB terhadap Israel selalu diveto?
Bagian keempat
Tuan Presiden,
Anda mengetahui bahwa saya hidup bersama rakyat dan selalu berhubungan dengan mereka. Banyak masyarakat Timur Tengah yang menghubungi saya dengan berbagai cara. Mereka melihat kebijakan ganda ini tidak sesuai dengan logika apapun.
Bukti-bukti menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat di kawasan
Timur Tengah, dari hari ke hari semakin marah dengan kebijakan yang telah dilakukan.
Saya tidak bermaksud untuk menyampaikan banyak pertanyaan, namun saya ingin menunjukkan beberapa poin lain.
Mengapa setiap kemajuan ilmu dan teknologi di kawasan
Timur Tengah selalu dianggap dan dipropagandakan sebagai ancaman terhadap rezim Israel?
Apakah usaha ilmiah dan penelitian bukan merupakan hak-hak dasar masyarakat?
Anda mungkin memiliki pengetahuan tentang sejarah. Selain abad pertengahan pada bagian mana dari sejarah dan dimanakah, kemajuan ilmu dan teknologi dianggap sebagai sebuah kejahatan? Apakah dengan mengandaikan kemungkinan dipakainya ilmu dan teknologi untuk maksud-maksud militer dapat menjadi alasan untuk menentang ilmu dan teknologi? Bila kesimpulan yang demikian adalah benar, maka seluruh ilmu harus ditentang bahkan fisika, kimia, matematika, kedokteran, arsitektur dan lain-lain.
Dalam masalah Irak telah terjadi kebohongan. Hasilnya apa? Saya tidak ragu bahwa semua manusia meyakini bahwa kebohongan adalah hal yang tidak terpuji. Anda sendiri tidak akan senang bila orang lain berdusta terhadap Anda.
Bagian kelima
Tuan Presiden,
Apakah masyarakat di
Amerika Latin memiliki hak untuk mempertanyakan mengapa selalu ada usaha untuk tidak menyetujui pemerintahan terpilih dari rakyat dan pada saat yang sama adanya pembelaan bagi mereka yang ingin melakukan kudeta terhadap pemerintahan terpilih. Mengapa ancaman selalu diarahkan kepada mereka?
Masyarakat Afrika adalah masyarakat yang punya etos kerja, kreatif dan memiliki potensi. Mereka dapat berperan penting dalam menjamin kebutuhan dan kemajuan materi dan maknawi masyarakat dunia. Namun, kemiskinan dan kepapaan di sebagian besar Afrika menjadi kendala terbesar untuk dapat memainkan peran penting tersebut.
Apakah mereka berhak untuk mempertanyakan, mengapa kekayaan luar biasa dan barang tambang mereka dijarah padahal mereka lebih membutuhkan dari orang lain? Apakah aksi-aksi semacam ini sesuai dengan ajaran Nabi Isa AS dan hak-hak asasi manusia?
Masyarakat Iran yang berani dan beriman juga memiliki banyak pertanyaan. Salah satunya adalah Kudeta 28 Murdad tahun 1953 terhadap pemerintahan waktu itu, menentang revolusi Islam pada 52 tahun yang lalu, menjadikan kedutaan Amerika menjadi markas penentang Republik Islam, memiliki ribuan dokumen rahasia, melindungi Saddam Hussein dalam perang terhadap Iran, penembakan pesawat penumpang Iran, menyandera harta masyarakat Iran, ancaman-ancaman yang semakin meningkat dengan menunjukkan ketidaksetujuan serta kemarahan atas kemajuan ilmu dan teknologi serta nuklir masyarakat Iran. Padahal semua orang Iran gembira dengan kemajuan negara mereka dan mengadakan pesta untuk keberhasilan mereka. Masih banyak lagi pertanyaan semacam ini yang di surat ini tidak saya cantumkan.
Bagian keenam
Tuan Presiden,
Peristiwa 11 September benar-benar merupakan peristiwa yang mengerikan. Pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa di bagian mana saja dari dunia ini selalu menyakitkan dan sangat disayangkan. Pemerintah kami pada waktu itu mengumumkan rasa kebencian terhadap pelaku kejadian dan sekaligus mengucapkan belasungkawa kepada mereka yang ditinggalkan. Semua negara memiliki kewajiban untuk melindungi jiwa, harta dan kehormatan rakyatnya.
Seperti yang disebut-sebut, negara Anda memiliki sistem keamanan, penjagaan dan informasi yang luas dan canggih. Bahkan para penentang yang berada di luar negeri pun diburu. Operasi 11 September bukan operasi yang mudah.
Apakah konsep dan pelaksanaan operasi tersebut dapat terwujud tanpa kerja sama dengan sistem informasi, keamanan atau adanya pengaruh yang kuat?
Tentunya ini adalah sebuah pengandaian yang logis. Mengapa sisi-sisi lain dari kejadian ini tetap misterius? Mengapa tidak ada penjelasan resmi tentang siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian ini? Dan mengapa para pelaku dan mereka yang lalai tidak diumumkan dan dihukum?
Bagian ketujuh
Tuan Presiden,
Salah satu kewajiban pemerintah adalah mewujudkan keamanan dan ketenangan bagi rakyatnya. Masyarakat negara Anda dan negara-negara yang bertetangga dengan poros krisis dunia tidak lagi merasakan keamanan dan ketenangan selama bertahun-tahun.
Setelah peristiwa 11 September, bukannya meredam jiwa dan menenangkan masyarakat Amerika yang sangat menderita akibat peristiwa tersebut tapi sebagian media massa Barat malah membesar-besarkan kondisi tidak aman dan senantiasa mengabarkan adanya kemungkinan serangan teroris serta senantiasa sengaja menjaga agar masyarakat dalam kondisi takut dan khawatir. Apakah ini yang disebut melayani rakyat Amerika? Apakah kerugian yang berasal dari ketakutan dan kekhawatiran dapat dihitung?
Coba anda bayangkan, rakyat Amerika merasa bakal ada serangan. Mereka merasa tidak aman ketika berada di jalanan, tempat kerja dan di rumah. Siapa yang dapat menerima kondisi seperti ini? Mengapa media bukannya memberitakan hal-hal yang dapat menenangkan dan memberikan keamanan sebaliknya malah mengabarkan ketidakamanan?
Sebagian berkeyakinan bahwa propaganda besar-besaran ini dijadikan fondasi dan alasan untuk menyerang Afghanistan. Bila sudah begini kiranya baik bila saya berikan sedikit petunjuk terkait dengan media.
Dalam prinsip dasar media, penyampaian informasi yang benar dan menjaga amanat dalam menyebarkan berita adalah prinsip dasar yang manusiawi dan telah diakui. Saya merasa perlu untuk mengucapkan dan mengumumkan rasa penyesalan yang dalam atas ketiadaan rasa tanggung jawab sebagian media Barat berkaitan dengan komitmen ini.
Alasan utama agresi ke Irak adalah adanya senjata pemusnah massal. Tema ini diulang-ulang sedemikian rupa sehingga masyarakat percaya dan akhirnya basis penyerangan Irak pun tercipta.
Apakah kebenaran tidak akan hilang dalam atmosfer yang direkayasa dan berisi kebohongan?
Apakah hilangnya sebuah kebenaran sesuai dengan tolok ukur yang telah saya jelaskan sebelumnya?
Apakah kebenaran juga akan hilang di sisi Tuhan?
Bersambung ----------------------------

Friday, November 9, 2012

Serbuan Bangsa Mongol (2)



Serangan-serangan Mongol
Wilayah kultur Arab menjadi jajahan Mongol setelah Bagdad ditaklukkan oleh Hulako Khan, 1258. Ia membentuk kerajaan II Khaniyah yang berpusat di Tabris dan Maragha. Ia dipercaya oleh saudaranya, Mongke Khan untuk mengembalikan wilayah-wilayah Mongol di Asia Barat yang telah lepas dari kekuasan Mongol setelah kematian Chinggis. Ia berangkat dengan disertai pasukan yang besar untuk menunaikan tugas itu tahun 1253 dari Mongolia. Atas kepercayaan saudaranya tersebut, Hulako Khan dapat menguasai wilayah yang luas seperti Persia, Irak, Caucasus dan Asia Kecil sebelum menundukkan Bagdad, ia telah menguasai pusat gerakan Syi’ah Isma’iliyah (Syiah Ismailiyah adalah sekte syiah yang berbeda dengan sekte Syiah lainnya, seperti Syi’ah Mausumiyyah dan Syi’ah Itsnah ‘Asy’ariyahhah. Ismai’liyyah berpendapat bahwa imam yang terakhir adalah Isma’il bin Ja’far. Faham Isma’iliyyah menyatakan bahwa imam itu hanya sampai hitungan tujuh, dengan argumentasi bahwa hari dalam satu pekan, hanya ada tujuh, langit juga tujuh dan bintang pun juga tujuh. Disamping itu juga, sekte ini sangat mengedepankan akal. Lihat : Syaharastani, Milal Wa an-Nihal (Beirut : Dar al-Fikr, 1997), 153-155
di Persia Utara, tahun 1256. 
Mongol siege 

Sebuah kota di bawah pengepungan Mongol. The Mongol digunakan pemukulan ekor domba jantan, 
ketapel, trebuchets, jembatan, dan tangga skala.
 
Jatuhnya ibu kota Abbasiyah yang didirikan oleh Khalifah kedua, al-Mansur itu, berkaitan erat sekali dengan seseorang yang bernama Ibnu al-Qami’ (Dia adalah seorang perdana menteri yang beraliran Syi’ah Rafadh. Pada tahun 642 H/1244 M, khalifah dinasti Fathimiyyah, Mu’tashim Billah mengangkat perdana menteri dari aliran Syi’ah Rafadh. Perdana menteri ini sangat berambisi untuk merampas tahta khilafah dari tangan Abbasiyyah kemudian diserahkan kepada dinasti Fathimiyyah, dan kesempatan emas dia peroleh tatkala pasukan Mongol menyerbu wilayah-wilayah Islam. Ia aktif mengadakan kontak dan korespondensi dengan pasukan Mongol dan mendukung mereka menyerang Baghdad. Jika ia mendapatkan surat balasan dari pasukan Mongol, maka surat tersebut ia rahasiakan dan tidak dia laporkan kepada khalifah. Sebaliknya hal yang berkaitan dengan khalifah Bani Abbasiyyah, ia beberkan secara transparan kepada pasukan Mongol. Lihat : As-Suyuti : Tarikh al-Khulafa’ (Beirut : Dar al-Fikr, 1990), 465. Puncak kemarahannya adalah ketika Baghdad pada 655 H / 1257 M. Kaum Suni dan Syi’ah Rafidh berperang, dan pada akhirnya dimenangkan oleh Sunni, kemuan orang-orang Sunni merampas rumah-rumah mereka termasuk rumah-rumah kerabat perdana menteri tersebut. Factor inilah yang memicu Ibnu al-Qami’ berkompromi dengan pasukan Mongol. Lihat : Al-Bidayah wan-Nihayah, Jilid XIII, 196.)
ia berhasil merayu pasukan Mongol untuk menyerang Bagdad. Pada awal tahun 656 H / 1258 M, Hulako Khan mengirimkan pasukan ke Bagdad di bawah pimpinan dua amirnya sebagai pasukan awal sebelum kedatangannya, kemudian pada tanggal 12 Muharram pada tahun yang sama, pasukan yang berkekuatan dua ratus ribu personel dan dipimpin langsung oleh Hulako Khan tiba di Baghdad. Mereka mengepung Baghdad dari dua arah, barat dan timur, pada akhirnya diadakan perjanjian antara Hulako dan Mu’tashim. Mu’tashim dikawal tujuh ratus dari kalangan hakim, fuqoha’, orang-orang sufi dan pejabat Negara. Pada akhirnya mereka semua dibunuh oleh Hulako Khan tidak tersisa sama sekali, hal ini atas permintaan Ibnu al-Qami’ dan Nashiruddin at-Thutsi. Demikian juga membunuh sebagian besar keluarga khalifah dan penduduk yang tak berdosa. Akibat pembunuhan dan kerusakan kota itu timbullah wabah penyakit, lantaran mayat-mayat yang bergelimpangan belum sempat dikebumikan. Hulako mengenakan gelar II Khan dan menguasai wilayah yang lebih luas lagi hingga ke Syiria Utara, seperti kota Aleppo, Hama, dan Harim.
Selanjutnya ia ingin merebut Mesir, tetapi malang, pasukan Mamluk rupanya lebih kuat dan lebih cerdik sehingga pasukan Mongol dapat dipukul di ‘Ain Jalut, Palestina, thun 1260 sehingga mengurungkan niatnya melangkahi Mesir. Ia sangat tertarik pada bangunan dan arsitektur yang indah dan filsafat. Atas saran Nasiruddin at-Tusi, seorang Filosof Muslim besar. Ia membangun ovservatorium di Maragha tahun 1259.
Hulako yang memerintah hingga thun 1265 digantikan oleh anaknya, Abaqa, 1265-1282. ia sangat menaruh perhatian kepada umat Kristen karena pengaruh janda ayahnya yang beragama Kristen Nestorian (Kristen Nestorian adalah sekte Kristen pengikut Nestor yang bijaksana, tetapi dalam komentarnya Ahmad Fahmi editor al-Milal wa an-Nihal menyatakan bahwa ada pendapat yang menyebut tentang penisbatan nama Nestorian kepada Nestorius, yaitu seorang pendeta di Constantinopel yang menyatakan Mariyam tidak melahirkan Tuhan, akan tetapi melahirkan manusia, hanya saja kehendaknya sama dengan Tuhan, sedangkan zatnya berbeda. Sekte ini berada di Persia, Iraq, Jazirah Arab. Lihat : Syaharastani, Milal Wa an-Nihal, 181.
yakni Doqus Khatun. Orang-orang Mongol II Khaniyah ini bersekutu dengan orang-orang Salib, penguasa Kristen Eropa, Armenia Cilicia untuk melawan Mamluk dan keturunan saudara-saudaranya sendiri dari dinasti Horde keemasan (Golden Horde) yang telah bersekutu dengan Mamluk, penguasa Muslim yang berpusat di Mesir. Dinasti II Khaniyyah lama kelamaan renggang hubungannya dengan saudara-saudaranya yang berada di Timur, terutama setelah meninggalnya Qubulay Khan tahun 1294. bahkan mereka yang menguasai barat sampai Bagdad itu karena tekanan kultur Persia yang Islam, berbondong-bondong memeluk agama Islam seperti Ghazan Khan dan keturunannya. Penguasa II Khaniyyah terakhir ialah Abu Sa’id. Ia berdamai dengan Mamluk tahun 1323, yang mengakhiri permusuhan antara kedua kekuasan itu untuk merebut Syiria. Perselisihan dalam tubuh II Khaniyyah sendiri menyebabkan terpecahnya kerajaan menjadi dinasti kecil-kecil yang bersifat lokal. Mereka hanya dapat dipersatukan kembali pada masa Timur Lenk yang berbentuk dinasti Timuriyyah yang berpusat di Samarkand.
Sebagian wilayah II Khaniyyah yang berada di kawasan kebudayaan Arab seperti Iraq, Kurdistan dan Azebaijan, diwarisi oleh dinasti Jalayiriyah. Jalayir adalah suku Mongol yang mengikuti Hulako ketika menaklukkan negeri-negeri Islam. Dinasti ini didirikan oleh Hasan Buzurg (Agung), yang dibedakan dengan Hasan Kuchuk (kecil) dari dinasti Chupaniya, musuh bubuyutannya yang memerintah sebagai Gubernur di Anatolia di bawah sultan Abu Sa’id, penguasa terakhir dinasti II Khaniyyah. Hasan Buzurg akhirnya menundukkan Chupaniyah, walaupun ia masih harus mengakui kekuasaan II Khaniyah, dan memusatkan kekuasaanya di Bagdad. Dimasa Uways, pengganti Hasan Agung, Jalayiriyyah baru memiliki kedaulatan secara penuh. Ia dapat menundukkan Azerbaizan, namun mendapat perlawan dari dinasti Muzaffariyah dn Khan-Khan Horde keemasan. Mereka akhirnya dikalahkan oleh Qara Qoyunlu.
Dari sini dapat dilihat, bahwa kultur Islam yang ada dikawasan budaya Arab seperti Iraq dan Syiria serta sebagian Persia sebelah barat, walaupun secara politis dapat ditaklukkan oleh Mongol, tetapi akhirnya Mongol sendiri terserap ke dalam budaya Islam. Dapatlah kiranya disimpulkan bahwa akar budaya Islam dikawasan budaya Arab dipemerintahan bukan hanya dynasti berbangsa Arab saja tetapi siapa yang kuat akan memerintah wilayah tersebut. Dinasti-dinasti silih berganti menguasai wilayah itu dan yang langgeng ialah kekuasaan dari bangsa Arab sendiri, baik pada masa klasik maupun masa modern ini.  
Mongol siege 
 pengepungan Mongol pada tahun 1221 adalah sedikit berbeda dari yang digunakan  
untuk pengepungan Baghdad pada tahun 1258.
Dampak Kekuasaan Mongol

Apa dampak positif maupun negative kekuasaan Mongol terhadap wilayah-wilayah Islam yang ditundukkannya ?. Dampak negative tentu lebih banyak dibandingkan dengan dampak positifnya. Kehancuran tampak jelas dimana-mana dari serangan Mongol sejak dari wilayah timur hingga ke barat. Kehancuran kota-kota dengan bangunan yang indah-indah dan perpustakaan-perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi ummat Islam. Pembunuhan terhadap umat Islam terjadi, bukan hanya pada masa Hulako saja yang membunuh khalifah Abbasiyyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan dilakukan juga terhadap umat Islam yang tidak berdosa. Seperti yang dilakukan oleh Argun Khan ke empat pada dinasti II Khaniyyah terhadap Takudar sebagai Khan ketiga yang dihukum bunuh karena masuk Islam, Argun Syamsuddin, seorang administrator dari keluarga Juwaini yang tersohor dihukum mati tahun 1284, Syihabuddin penggantinya juga dibunuh tahun 1289, dan Sa’id ad-Daulah yang orang Yahudi itu dihukum mati pula pada tahun 1289.
Bangsa Mongol yang asal mulanya memeluk agama nenek moyang mereka, lalu beralih memeluk agama Budha, rupanya bersimpati kepada orang-orang Kristen yang bangkit kembali pada masa itu dan menghalang-halangi dakwah Islam di kalangan Mongol, yang lebih fatal lagi ialah hancurnya Baghdad sebagai pusat dinasti Abbasiyyah yang di dalamnya terdapat berbagai macam tempat belajar dengan fasilits perpustakaan, hilang lenyap dibakar oleh Hulako. Suatu kerugian besar bagi khazanah ilmu pengetahuan yang dampaknya masih dirasakan hingga kini.
Ada pula dampak positif dengan berkuasanya dinasti Mongol ini setelah para pemimpinnya memeluk agama Islam. Mengapa mereka dapat menerima dan masuk ke agama Islam? Antara lain adalah disebabkan karena mereka berasimilasi dan bergaul dengan masyarakat Muslim dalam jangka panjang, seperti yang dilakukan oleh Gazan Khan (1295-1304) yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan, walaupun ia pada mulanya beragama Budha. Rupanya ia telah mempelajari ajaran agama-agama sebelum menetapkan keislamannya, dan yang lebih mendorongnya masuk Islam adalah karena pengaruh seorang menterinya, Rasyiduddin yang terpelajar dan ahli sejarah yang terkemuka yang selalu berdialok dengannya, dan Nawruz, seorang Gubernurnya untuk beberapa propinsi Syiria. Ia menyuruh kaum Kristen dan Yahudi untuk membayar Jizyah, dan memerintahkan mencetak uang yang bercirikan Islam, melarang riba’, dan menyuruh para pemimpinnya menggunakan sorban. Ia gemar pada seni dan ilmu pengetahuan, menguasai beberapa bahasa seperti Mongol, Arab, Persia, Cina, Tibet dan Latin. Ia mati muda ketika berumur 32 tahun, karena tekanan batin yang berat sehingga ia sakit yang menyebabkan kematiannya itu ketika pasukannya kalah di Syiria dan munculnya sebuah komplotan yang berusaha untuk menggusurnya dari kekuasaannya. Sepeninggal Gazan digantikanlah oleh Uljaitu Khuda Banda (1305-1316) yang memberlakukan aliran Syi’ah sebagai hukum resmi kerajaanya. Ia mendirikan ibu kota baru yang bernama Sultaniyyah dekat Qazwain yang dibangun dengan arsitektur khas II Khaniyyah. Banyak koloni dagang Italia terdapat di Tabriz, dan II Khaniyyah menjadi pusat pedagangan yang menghubungkan antara dunia Barat dan India serta Timur Jauh. Namun perselisihan dalam keluarga dinasti II Khaniyyah menyebabkan runtuhnya kekuasaan mereka.
 
Sesungguhnya invansi pasukan Mongol terhadap Negara-negara Islam adalah tragedi besar yang tidak ada tandingannya sebelum ini dan sesudahnya. Kendati sebelumnya di dahului oleh perang Salib, apalagi melihat peristiwa hancurnya ibu kota Dinasti Abbasiyah yaitu Baghdad.
Dari sini, penulis akan menyimpulkan beberapa faktor hancurnya wilayah-wilayah Islam yang termasuk didalamnya adalah Bagdad, diantaranya adalah :
v  Terjadinya perpecahan dan konflik internal kaum muslimin.
v  Setiap amir atau khalifah hanya perhatian kepada wilayahnya saja, tanpa beban ketika ada suatu wilayah Islam lainya jatuh di tangan musuh.
v  Kurang professional dalam mengangkat pejabat Negara, terutama dalam bidang politik dan militer.
v  Kurangnya jiwa revolosioner di kalangan ummat Islam, mereka banyak terjun di dunia sufi, fiqh, dan teologi.
Demikian yang dapat saya uangkapkan tentang invansi Mongol, mudah-mudahan dapat memicu kita sebagai ummat Islam untuk mempertahankan agama kita dari berbagai macam segi.

Sumber: Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisri

Serbuan Bangsa Mongol (1)




SERANGAN MONGOL“JENGIS KHAN DAN HULAKO KHAN”

12th century Eurasia

                         
 

Pendahuluan:
Sesungguhnya invansi pasukan mongol terhadap wilayah-wilayah Islam adalah tragedy besar yang tidak ada tandingannya sebelum ini dan sesudahnya. Kendati sebelumnya didahului dengan perang salib, sesungguhnya perang salib tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan invansi pasukan mongol. Betapapun banyaknya jumlah korban perang dari kaum muslimin pada keseluaruhan perang salib, sesungguhnya itu masih relative kecil jika dibandingkan dengan jumlah korban perang dari kalangan kaum muslimin pada satu perang diantara sekian banyaknya perang yang dilancarkan pasukan Mongol secara brutal dan sadis tersebut.  Kaum muslimin mengalami kerugian yang tidak terhitung akibat kolonialisme modern, namun penghancuran oleh para penjajah di seluruh negeri tidak sebanding dengan penghancuran oleh pasukan Mongol terhadap satu kota saja Bagdad misalnya.
Barangkali manusia tidak pernah melihat pembantaian, pembunuhan dan penghancuran yang sadis dan kejam dalam sejarahnya, kecuali pembantaian di akhir perjalanan dunia nanti oleh Ya’juj dan Ma’juj. Dajjal saja tidak membunuh pengikutnya dan hanya, membunuh para penentangnya. Sedangkan mereka bangsa Mongol tersebut tidak menyisahkan seorang pun, semuanya dibabat habis. Tidak ada pengecualian antara laki-laki, wanita dan anak-anak. Mereka belah perut wanita-wanita hamil kemudian membunuh bayi-bayinya.
Invasi pasukan mongol berimbas pada perubahan social, moralitas dan politik terhadap negeri-negeri Islam. Sebagaimana invansi pasukan Mongol mengakibatkan dampak negative dalam masyarakat Islam, disamping itu juga mengakibatkan dampak positif bagi ummat Islam, yaitu membangun perasaan kaum muslimin terhadap pentingnya persatuan dan membuang jauh-jauh perpecahan.
Jikalau ditelusuri historisnya, umat Islam pada waktu itu tersebar dimana-mana dari jazirah Arab sampai Eropa dibawah naungan Negara-negara Islamiyah, yang sudah barang tentu system pemerintahannya sudah mulai mendekati ideal, disamping itu pula, peradapan dan ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat, ini semunya menandakan bahwa pada waktu itu ilmuwan dan cendekiawan muslim mulai banyak seperti Ibnu Taimiyah. Akan tetapi ironis sekali bilamana Negara Islam tatkala itu dikikis habis oleh Negara Mongol, bagaikan debu yang ada di atas batu licin yang diterpa angin yang kencang. Atas dasar pertimbangan itulah, penulis akan mencoba menguak dan menelusuri sebab-musabab keberhasilan Mongol menguasai Negara Islam dan termasuk menghancurkan Bagdad. Sebagai sentral umat Islam pada waktu itu, disamping itu pula, penulis akan menggali sejarah sebab hancurnya Negara-negara Islam.
Pokok bahasan dalam makalah yang berjudul Serangan-Serangan Mongol : Jengis Khan dan Hulako Khan adalah sebagai berikut :
o   Latar Belakang Bangsa Mongol
o   Agamanya
o   Sejarah Perkembangannya
o   Serangan-serangan Jengis Khan dan Hulaho Khan
o   Dampak Positif dan Negatif atas Invasi Mongol

Latar Belakang Bangsa Mongol
Asal mula bangsa Mongol adalah dari masyarakat hutan yang mendiami Siberia dan Mongol Luar di sekitar danau Baikal dan pegunungan Altani tepatnya di bagian barat laut Cina Sebenarnya mereka itu bukanlah suku nomad yang berpindah-pindah dari satu stepa ke stepa yang lain, walapun mereka menaklukkan banyak stepa dengan ketangkasannya menunggang kuda.
Pemimpin atau Khan bangsa Mongol yang pertama diketahui dalam sejarah adalah Yesugei (w. 1175). Ia adalah ayah Chinggis (Chingis atau Jengis). Chinggis aslinya bernama Temijin, seorang pandai besi yang mencuat namanya karena perselisihan yang dimenangkannya melawan Ong Khan atau Togril, seorang kepala suku Kereyt. Chinggis sebenarnya adalah gelar bagi Temujin yang diberikan kepadanya oleh sidang kepala-kepala suku Mongol yang mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi bangsa itu pada tahun 1206, atau juga disebut Chingis Khan/Raya yang Agung, ketika ia berumur 44 tahun. Perlu diketahui juga, bahwasannya bangsa Mongol adalah bangsa yang pemberani dan tegar dalam berperang.
Agama Bangsa Mongol
Bangsa Mongol tidak memeluk salah satu agama samawi dari ketiga agama samawi. Padahal mereka hidup dan berinteraksi dengan pengikut agama Yahudi, Kristen dan Islam. Jengis Khan juga menyempurnakan moral masyarakatnya dengan undang-undang yang dibuatnya, yaitu Ilyasa atau Yasaq.(Diantara ajaran yang terdapat dalam kitab Ilyasa adalah 1. Barangsiapa yang melakukan hubungan diluar nikah, maka harus dibunuh, baik yang sudah pernah nikah atau belum. 2. Barngsiapa yang melakukan hubungan seksual akan dibunuh. 3. Barangsiapa yang berdusta dengan sengaja, maka dibunuh. 4. Barangsiapa yang menyihir, maka akan dibunuh. 5. Barangsiapa yang buang air kecil di air yang tidak bergerak, maka akan dibunuh. 6. Dan lain-lain. Lihat : Ibnu Atsir, Al-Kamil Fi at-Tarikh (Beirut : Dar al-Fikr, 1986), Jilid XII. 360.)
Disamping itu juga, Jengis Khan juga mengatur kehidupan beragama dengan tidak boleh merugikan antara satu pemeluk agama dengan yang lainnya. Sebagai konsekwensinya, rakyat Mongol harus menghormati rajanya (Diantara contoh penghormatan bangsa Mongol terhadap rajanya adalah : a. Taat buta sesuai dengan kemampuannya. b. Rakyat Mongol harus menyerahkan anak gadisnya yang berparas cantik kepada rajanya untuk diperistri dan para pembantunya diberi kebebasan untuk memilih sisanya. c. Mereka memanggil rajanya dengan nama aslinya. d. Barangsiapa berjalan melewati orang yang sedang makan, ia boleh ikut nimbrung makan) tentara yang mau perperang harus diinspeksi terlebih dahulu dan perempuan harus siap membayar pajak jika lelakinya pergi berperang, ia juga mendirikan pos untuk mengetahui berita tentang kerajaanya, ia melarang penyerbuan terhadap agama, sekte agama dan mencegah terjadinya perbedaan dalam agama. Ternyata Jengis Khan ingin mengambil hati kaum muslimin dengan tidak mengusik kelompoknya, dan menghormati Nabi SAW, yang ketika itu Islam sudah meluas hingga ke wilayahnya, guna menghadapi tantangan dan meluaskan wilyah ke luar negeri, baik ke Cina maupun ke negeri-negeri Islam.

Perkembangan Bangsa Mongol
Bangsa yang dipimpinnya itu meluaskan wilyah ke Tibet (Cina barat laut), dan Cina, 1213, serta dapat menaklukkan Beijing tahun 1215. ia menundukkan Turkestan tahun 1218 yang berbatasan dengan wilayah Islam, yakni Khawarazm Syah. Invasi Gubernur Khawarazm membunuh para utusan Chinggis yang disertai oleh para saudagar Islam. Peristiwa tersebut menyebabkan Mongol menyerbu wilayah Islam, dan dapat menaklukkan Transoxania yang merupakan wilayah Khawarazm 1219-1220, padahal sebelummnya, mereka justru hidup berdampingan secara damai satu sama lain. Kota Bukhara di Samarkand yang di dalamnya terdapat  makam Imam Bukhari, salah seorang perawi Hadits yang termasyhur, dihancurkan, Balk, dan kota-kota lain yang mempunyai peradapan  Islam yang tinggi, di Asia Tengah juga tidak luput dari penghancuran. Jalaluddin, penguasa Khawarazm yang berusaha meminta bantuan kepada khalifah Abbasiyah di Bagdad, menghindarkan diri dari serbuan Mongol, ia diburu oleh lawannya hingga ke India 1221, yang akhirnya ia lari ke Barat. Toluy, salah seorang anak Chinggis, diutus ke Khurrasan sementara anaknya yang lain, yakni Jochi dan Chaghatay bergerak untuk merebut  wilayah sungai Sir Darya Bawah dan Khawarazm.Wilayah kekuasaan Jengis Khan yang luas dibagi untuk empat orang putranya sebelum ia meninggal dunia tahun 624/1227. (Tujuan pembagian wilayah imperium tersebut sebenarnya adalah untuk menciptakan administrasi yang kokoh, akan tetapi yang terjadi sebaliknya, yaitu merangsang sejumlah pertempuran untuk merebutkan kekuasaan di kalangan keturunan Jengis Khan, yaitu merebutkan warisan ayahnya. Hal ini disebabkan oleh sifat ambiguitas yang melekat di dalam konsep kenegaraan Mongol. Lihat : Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies (USA : Cambridge University Press, 1988), 428.)
 
Pertama ialah Jochi, anaknya yang sulung mendapat wilayah Siberia bagaian Barat dan Stepa Qipchaq yang membentang hingga Rusia selatan, di dalamnya terdapat Khawarazm. Namun ia meninggal dunia sebelum wafat ayahnya Jengis, dan wilayah warisannya itu diberikan kepada anak Jochi yang bernama Batu atau Orda. Batu mendirikan Horde (kelompok) Biru di Rusia Selatan sebagai pilar dasar berkembangnya Horde putih di Siberia Barat. Kedua kelompok itu bergabung dalam abad ke 14 yang kemudian muncul sebagai ke khanan yang bermacam ragamnya di Rusia, Siberia dan Turkistan, termasuk di Crimea, Astrakhan, Qazan, Qasimov, Tiumen, Bukhara, dan Khiva. Syaibaniyah atau Ozbeg, salah satu cabang keturunan Jochi berkuasa di Khawarazm dan Transoxania dalam abad ke 15 dan 16.

Kedua adalah Chaghatay, mendapat wilayah berbentang ke Timur, sejak dari Transocania hingga Turkistan Timur atau Turkistan Cina. Cabang barat dari keturunan Chaghatai yang bermukim di Tranxosania segera masuk ke dalam lingkungan pengaruh Islam, namun akhirnya dikalahkan oleh kekuasaan Timur Lenk. Sedangkan cabang timur dari keturunan Chaghatay berkembang di Semirechye, Ili, T’ien Syan di Tamrin. Mereka lebih tahan terhadap pengaruh Islam, tetapi akhirnya mereka ikut membantu menyebarkan Islam di wilayah Turkistan Cina dan bertahan disana hingga abad ke XVII. 
Ketiga bernama Ogedey, adalah putra Jengis Khan yang terpilih oleh dewan Pimpinan Mongol untuk menggantikan ayahnya sebagai Khan Agung yang mempunyai wilayah di Pamirs dan Tien Syan. Tetapi dua generasi Khan tertinggi jatuh ke tangan keturunan Toluy. Walaupun demikian, cucu Ogedey yang bernama Qaydu dapat mempertahankan wilayahnya di Pamirs dan Tien Syan, mereka berperang melawan anak turun Chaghatay dan Qubulay Khan, hingga ia meninggal dunia tahun 1301.
Keempat adalah Tuli, si bungsu mendapat bagian wilayah Mongolia sendiri. Anak-anaknya, yakni Mongke dan Qubulay menggantikan Ogedey sebagai Khan Agung. Mongke bertahan di Mongolia yang ber ibu kota di Qaraqarum. Sedangkan Qubulay Khan menaklukan Cina dan berkuasa disana yang dikenal sebagai dinasti Yuan yang memerintah hingga abad ke-XIV, yang kemudian digantikan dinasti Ming. Mereka memeluk agama Budha yang berpusat di Beijing, dan mereka akhirnya bertikai melawan saudara-saudaranya dari Khan-Khan Mongol yang beragama Islam di Asia Barat dan Rusia. Adalah Hulako Khan, (Hulako Khan dilahirkan semasa hidup Jengis Khan tepatnya sepuluh tahun sebelum meninggalnya Jengis Khan tahun 614 H / 1217 M. Nasab keturunannya sebagaimana dikatakan oleh sejarawan adalah Hulako Khan bin Tuli Khan bin Jengis Khan. Ibnu Katsir mengatakan : Hulako Khan adalah Raja Mongol bin raja Mongol. Ia adalah anak dari raja-raja mereka, orang awam menyebutnya Hulawun, Ibnu Katsir menambahkan bahwa Hulako adalah seorang raja yang dictator, sadis dan tidak bermoral. Ia bantai kaum muslimin di Timur dan di Barat dalam jumlah yang besar dan hanya Allah yang tahu berapa jumlahnya, dan dia tidak menganut agama apapun. Lihat : Al-Bidayah wa an-Nihayah, Jilid XIII, 248)saudara Mongke Khan dan Qubulay Khan, yang menyerang wilayah-wilayah Islam sampai ke Bagdad.
 

bersambung .................2