Wednesday, June 26, 2013

Makna Tahi Lalat ditubuh



  Diberbagai zaman dan budaya di berbagai negara ternyata tahi lalat mempunyai artinya sendiri. Dan berikut adalah makna tahi lalat dari berbagai zaman yang berbeda. Yang bagus-bagus bisa kamu ambil, yang jelek bisa kamu bilang itu tato telor naga. Silakan disimak sob..!
 gambar Tahi Lalat - munsypedia.blogspot.com


1. Zaman Yunani Kuno
Orang Yunani kuno percaya bahwa tahi lalat dan tanda lahir dapat memprediksi nasib seseorang. Bahkan, Melampus, juru tulis Raja Ptolemeus I, menulis traktat perkiraan nasib seseorang secara keseluruhan berdasarkan letak tahi lalat. Rupanya, tahi lalat di pipi berarti kekayaan masa depan yang besar. Sementara, mereka yang memiliki tanda lahir di bagian belakang tenggorokan hidupnya akan berakhir dipenggal.

2. Kekaisaran China
Dalam pengobatan China klasik, ada sebuah tradisi moleomancy, yaitu ramalan berdasarkan tahi lalat dan tanda lahir. Nasib baik atau buruk bisa dilihat dari tanda khusus ditentukan dari sembilan titik di wajah, yang merupakan titik kemakmuran. Termasuk juga ukuran dan warna tanda lahir. Tahi lalat paling mudah dilihat dan dianggap sebagai peringatan atau pengingat nasib dan keberuntungan.

3. Romawi kuno
Bagi masyarakat romawi kuno, kulit mulus tanpa cacat adalah simbol kecantikan. Tahi lalat, bintik-bintik, dan tanda lahir dianggap sebagai masalah. Karena itu, wanita Romawi berusaha untuk menghapus atau memudarkan menggunakan abu yang terbuat dari siput.

4. Era Renaissance
Orang-orang di zaman Renaissance memiliki ide yang terbilang aneh seputar tahi lalat. Salah satunya adalah Quack Richard Sanders yang menciptakan 'sistem' yang ia klaim dapat digunakan untuk mencari tahu orang-orang yang memiliki tanda lahir yang sama.
Saat itu, tanda lahir diyakini dapat menggambarkan kepribadian. Jadi, jika Anda dapat menemukan letak tahi lalat dan tanda lahir seseorang, maka bisa diketahui apakah kelak ia akan jadi suami, teman atau mungkin mitra bisnis yang baik atau tidak.

5. Abad ke-18
Pada abad ke-18, mouches yang artinya terbang, merupakan 'noda' yang jadi tren di kalangan wanita. Noda yang dibuat pada wajah ini seperti tanda kecantikan dan sangat populer di kalangan wanita Eropa Barat. Begitu banyak para desainer mulai mengembangkannya. Bahkan ada yang membuat ukuran besar dan mouches terlihat seperti seseorang yang ditarik oleh empat ekor kuda.

6. Era Victoria
Pada era Victoria berkembang frenologi, atau 'ilmu' yang menganalisis kepala seseorang untuk mengetahui kepribadian, kecerdasan, dan karakter secara keseluruhan. Bahkan ada moleoscopy, sub-genre khusus yang diklaim mampu mengidentifikasi ciri-ciri karakter berdasarkan letak tahi lalat. Misalnya, jika ada tanda lahir atau tahi lalat di sisi kanan dahi mereka dianggap sangat cerdas dan kompeten. Jika tahi lalat ada di sisi kiri dahi, mungkin Anda tipe orang yang boros.

7. Era 1950an
Pada era 1950an, tahi lalat dianggap sebagai simbol seksualitas. Seperti Marilyn Monroe, ia memiliki tahi lalat besar di bagian sebelah kiri dekat dengan bibirnya. Lalu, Madonna dan Cindy Crawford juga memiliki tahi lalat dekat bibir. Dulu, tahi lalat dekat bibir dianggap penanda seseorang yang memiliki sensualitas tinggi.

Kalo barusan itu mitos tahi lalat pada zaman yang berbeda, kami juga punya mitos berdasarkan posisinya. Penasaran ga? Kalo ngga juga gapapa sih, kamu cuma akan kekurangan bahan buat sepik aja. Nih coba cocokin sama punya kamu :

1. Bibir bawah / atas : Banyak rezeki dan banyak yang mencintai.

2. Pipi kanan : Memiliki jiwa sosial yang tinggi, Dermawan.

3. Pipi kiri : Suka royal, banyak godaan

4. Alis sebelah kanan : Memiliki tanggung jawab yang besar.

5. Alis sebelah kiri : Suka mementingkan diri sendiri ( Egois )

6. Dahi kiri : Tahan terhadap ujian, memiliki otak yang cerdas.

7. Dahi kanan : Memiliki pengalaman yang luas.

8. Dagu : Banyak bicara, akan tetapi tidak dapat dipercaya.

9. Bahu kanan : Memiliki pendirian yang tidak tetap / selalu ragu ragu.

10. Bahu kiri : Memiliki pendirian yang tetap, tabah, teliti akan tetapi tidak pandai menyimpan sesuatu.

11. Kaki kanan : Pandai, ahli / pintar memilih pakaian.

12. Kaki kiri : Kuat berjalan.

13. Telapak tangan : Tenang, keras hati dan berat pukulannya.

14. Dada : Pukulannya berat, keras hati.

15. Hidung : Banyak rezekinya, tapi suka hura hura, royal dan banyak mencintai.

16. Lutut kanan / kiri : Gembira, kuat berjalan kemudian menyesal.

17. Telinga kanan : Keras hati dan royal.

18. Telinga kiri : Mudah marah.

19. Lengan : Kuat, berani dan sedikit bicara.

20. Ujung lengan : Dapat menyimpan rahasia.

21. Perut : Baik hati, lemah lembut, mudah terpengaruh.

22. Pergelangan tangan : Pemboros, cerewet, banyak bicara.

Tuh! Ternyata tahi lalat yang cuman segede biji upil aja banyak artinya lho. Yang mana yang cocok dengan kamu?



Sunday, April 21, 2013

Peranan Ali Murtopo dalam Perpolitikan Indonesia



Saya memang ikut (Ali Moetopo)
 
 
Tempo 28 Januari 1984. MESKI namanya tak lagi muncul tiap hari di media massa seperti sewaktu menjadi menteri penerangan, Ali Moertopo masih sering disebut-sebut dalam pembicaraan sehari-hari.
 
Terutama bila masalahnya mengenai politik Indonesia. Mungkin ini merupakan petunjuk bahwa bekas wakil kepala Bakin dan asisten pribadi presiden ini hingga sekarang masih tetap diperhitungkan”. Sebagai wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung, Ali Moertopo, 60, masih sering muncul di depan umum. Dua pekan lalu, misalnya, ia hadir dalam Hari Wisuda Universitas Indonesia. Bersama istrinya, ia sempat berfoto bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto, serta anak sulungnya, Haris Ali Moertopo, yang hari itu diwisuda sebagai insinyur. 

Akhir pekan lalu, selama hampir dua jam, ia berbincang-bincang tentang berbagai hal dengan Susanto Pudjomartono dan James R. Lapian dari TEMPO, di kantornya di DPA. Di dinding ruang tamunya, tergantung sebuah foto: Ali Moertopo bersama Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Umar Wirahadi kusumah. 

Bicaranya tetap tegas dan lantang seperti dulu. Tak terlihat tanda-tanda kesehatannya terganggu. Hanya sesekali suaranya terdengar bergetar. Petikan dari wawancara itu: Bagaimana rasanya pindah dari tugas eksekulif (menteri) menjadi penasihat? Ada beberapa dimensi yang bisa dilihat. Dari sudut kepentingan pribadi, pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya sekarang ini lebih ringan, menyenangkan, dan menguntungkan. 

Menurut status administrasi, DPA sejajar dengan badan legislatif. Di sini saya berhak mendapat pensiun juga. Dari profesi saya sebagai soldaat, saya berhak mendapat pensiun. Begitu juga sebagai bekas peJabat eksekutif. Ini sangat menyenangkan: orang kok bisa punya tiga pensiun sekaligus (tertawa). Bagaimana dengan dimensi lainnya? Kedua, dimensi perjuangan. Sejak Orde Baru, saya menjabat asisten pribadi presiden. Sebelumnya, saya menjadi staf pribadi presiden. Kalau dilihat fungsinya dengan pekerjaan saya sekarang, sama saja. Dulu, bahkan lebih rendah, karena hanya mengajukan laporan dan terserah pemakai. Sebagai anggota DPA, kini saya berkewajiban memberikan laporan, baik diminta maupun tidak. Dari segi ini, saya merasa bangga. Kok saya bisa mendapat kesempatan sebaik ini (diangkat sebagai anggota DPA). 

Sudah punya kesempatan begitu banyak, diberi kesempatan lagi. Karena itu, saya menganggap DPA sebagai lahan baru. Karena itu, kalau saya tak berhasil, memalukan sekali. Apa ukuran keberhasilan itu? Itu bisa dilihat bila saya bisa menuangkan pemikiran saya dalam kerja DPA yang mempunyai nilai strategis konsepsional. Menyadari DPA sebagai lembaga tinggi negara yang mempunyai sistem kerja kolektif, ambisi perjuangan saya adalah agar saham pemikiran yang saya berikan bisa dimengerti oleh si pemakai. Dalam hal ini presiden. Artinya, dapat digunakan untuk mengisi kelengkapan kebijaksanaan pimpinan negara dan bangsa. Dan tentu bermanfaat bagi bangsa dan rakyat Indonesia. 

Dari berbagai jabatan yang pernah Bapak pegang, mana yang paling cocok? Dulu, saya tak berangan-angan jadi tentara. Malah sewaktu masih di SMP, bila teman orangtua atau paman saya yang menjadi tentara datang, saya tidak begitu senang. Pada zaman pendudukan Jepang, bila teman-teman lama yang masuk Peta datang ke rumah, rasanya kok menakutkan. Saya juga ndak pernah ikut latihan militer, seperti Seinendan dan Keibodan. Waktu semua orang belajar bahasa Jepang, saya juga tidak ikut. Sampai sekarang, saya hanya tahu satu kata Jepang saja: sayonara. 

Lalu bagaimana ceritanya hingga bisa menjadi tentara? Baru pada awal proklamasi, saya tergerak untuk ikut perjuangan. Dimulai dengan masuk Hisbullah, mengikuti teman-teman sekampung. Kemudian saya memasuki AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia). Ketika masih bergerilya dengan pangkat prajurit, saya hanya menginginkan menjadi sersan mayor. Entah kenapa, tapi rasanya menjadi sersan mayor kok gagah. Setelah saya menjadi bintala, saya memimpikan menjadi kapten. “Tuhan, mbok saya diberi kesempatan menjadi kapten,” doa saya setiap habis menunaikan salat. Setelah menjadi kapten, saya tidak pernah punya ambisi lagi. Waktu masih perwira, saya tidak senang kalau ada orang bicara politik. 

Kalau teman-teman saya bicara politik, pistol yang saya cabut. Tapi kalau orang bicara teknik dan strategi kemiliteran, atau semangat korps, saya mau meladeninya. Sejak masih prajurit, saya lebih senang berkecimpung di medan pertempuran. Sehingga, atasan saya Pak Yoga Soegomo pernah berkata, “Selama di Indonesia ini masih ada kekacauan, pasti kamu naik pangkat. Tapi kalau Indonesia sudah tenang, jangan harap kamu naik pangkat.” Tapi promosi saya ternyata tidak berhenti. Sudah mau aman, ada PRRI, Trikora, dan Dwikora. 

Kemudian, saya pikir sudah akan selesai. Ternyata, masih ada Orde Baru. Selama meniti karier di luar militer, saya merasa beruntung. Dari militer kok bisa menjadi menteri, lalu menjadi pejabat lagi di DPA. Waduh, senangnya tak terkirakan. Ini merupakan pengalaman yang tidak mudah tercapai teman-teman lain. Jadi, kalau saya main-main, tidak bersungguh-sungguh mengabdi pada bangsa dan negara, berarti saya telah berkhianat. 

Oleh sementara pengamat, Bapak dianggap sebagai salah satu power centre di Indonesia, sebagai patron dari suatu kelompok politik. Bagaimana tanggapan Bapak? Berdasarkan Undang-undang Nomor 3/1975, hanya ada kekuatan politik dua parpol dan Golkar di Indonesia. Karena itu, saya tidak setuju kalau saya dianggap sebagai powerpolitik.

Kalau saya ikut “main”, itu saya akui. Tapi itu dalam artian iktikad baik saya mengabdi kepada bangsa dan negara menuju sistem kehidupan bangsa di bidang politik, yang mendukung stabilitas nasional jangka panjang. Bagaimana Bapak melihat situasi politik dalam negeri Indonesia saat ini? Dilihat dari sistem politik, kita berada pada suatu titik di mana sistem yang formal sudah selesai, tapi riil belum. Yan saya maksud formal adalah dua parpol dan Golkar. Yang riil, terutama di dua parpol itu, belum selesai. Misalnya musyawarah di dalam, menentukan kongres, masalah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. 

Sebetulnya, kalau dilihat dari segi kepentingan nasional, kedua parpol dan Golkar adalah milik bangsa Indonesia. Milik saya, milik mereka, milik semuanya. Jadi, seharusnya kita tidak saling masa bodoh. Orang yang rasional mengabdi kepada bangsa dan negara berdasarkan kesadaran penuh, (hingga) harus mengerti pentingnya PPP dan PDI. Bila keduanya mendapat kesulitan, semua orang harus membantu. Tapi harus tahu batas dan tidak mencampuri urusan intern mereka. 

Di sinilah dulu saya sering dianggap manipulator politik, karena saya selalu membantu. Saya beranggapan, semua organisasi politik di Indonesia milik kita bersama. Berarti saya ikut memiliki. Jadi, kalau saya tidak bisa membantu, ya, saya ini bukan warga negara yang baik. Yang penting, saya tahu batasnya. I know the border. 

Ada anggapan Bapak sekarang berubah. Misalnya dulu menentang pelembagaan Angkatan 66, tapi sekarang menyetujui. Buat saya, yang pertama kali harus dinilai dari Angkatan 66 adalah: mereka exist atau tidak Untuk itu, mereka harus memenuhi tiga syarat. 
Pertama, telah melakukan gerakan yang mengakibatkan perombakan menyeluruh. Ini telah mereka lakukan. Kedua, konsepsi. Ternyata, mereka mempunyai konsepsi Tritura.
Ketiga, nilai sejarah. Dalam hal ini, perjuangan Angkatan 66 juga punya: dari Orde Lama ke Orde Baru. Berarti, keberadaan Angkatan 66 sudah memenuhi persyaratan. Masalahnya: mau atau tidak diadakan pelembagaan Angkatan 66? Kita ingin melanjutkan penertiban atau strukturisasi Angkatan 66 dalam bentuk lembaga atau tidak? Saya sendiri tidak berkeberatan dengan pelembagaan Ankatan 66. Saya menyodorkan alternatif terbaik: pelembagaan lewat KNPI karena ia merupakan forum pemuda nasional. Bila ada yang menginginkan tidak melalui KNPI, itu terserah. Demokrasi. Cuma apakah cara itu nantinya bisa diterima masyarakat atau pemerintah. 

Benarkah pada 1981 Bapak pernah menentang pelembagaan ini? Bukan itu yang saya maksudkan. Waktu itu ada yang tidak menginginkan KNPI, dengan alasan lembaga Angkatan 66 lebih baik sempurna, dan relevan. Jadi, yang akan dihilangkan KNPI. Hal itu buat saya tidak benar. Kalau memang begitu, mati pun saya lakon (jalani). 

Bapak kelihatan amat fit. Bagaimana kesehatan Bapak sekarang? Kesehatan saya dipengaruhi dua unsur. Pertama, umur. Itu Tuhan yang menentukan. 
Kedua, saya memang sakit jantung dan sudah dioperasi. Secara medis, saya tidak apa-apa. 
Tapi sebagai manusia yang telah mempunyai umur tua, saya ya harus eman-eman (berhati-hati)…. Apakah Bapak merencanakan menulis memoar? Saya tidak senang menulis memoar karena di Indonesia ini yang laku emosi. Bila saya menulis memoar, nanti ada yang tersinggung dan tidak senang. Lebih baik menulis hal yang lain, yang bersifat historis konsepsional-strategis. Dengan begitu, ide dan gagasan saya tidak akan mati. Saya bisa mati, tapi ide itu jalan terus

Sunday, January 27, 2013

Queen Amuhia (The Wife of King Nebuchadnezzar II), Puteri Dari NUSANTARA



Mungkin Kita sering menemukan hasil penelitian dari ahli sejarah, yang bercerita tentang leluhur nusantara…
Ada yang memperkirakan mereka berasal dari India, Cina, Asia Tengah dan sebagainya…

 

Tahukah anda, jika bangsa-bangsa di dunia ini ternyata berkemungkinan mengalir darah Jawa (Melayu)? Melalui Penyelusuran Genealogy, fakta sejarah ini bisa dibuktikan…

Kisah ini bermula pada peristiwa sekitar tahun 600 SM, ketika Nebuchadnezzar II (King of Babylon), mengirimkan beberapa ekspedisi ke wilayah Timur, yang tujuannya untuk mengambil pohon-pohon besar serta benih-benih bunga pilihan, untuk kemudian di tanam di Taman Tergantung Babylon.

Inisiatif pembuatan Taman Bergantung ini, dilakukan dalam upaya untuk mengobati kerinduan Permaisuri Amuhia, kepada suasana kampung halamannya (Sumber : Alter Terahsia Bangsa Melayu V ).

Para pakar sejarah mencatat, Queen Amuhia (630-565 SM) merupakan keluarga King Cyaxares of The Medes (690-585 SM). Memperhatikan jarak usia keduanya, sekitar 60 tahun, kuat dugaan Queen Amunia, adalah cucu dari King Cyaxares. Ayah dari Queen Amunia, adalah seorang Pangeran dari bangsa Medes, yang juga merupakan saudara King Astyages of The Medes (660-550 SM).


Untuk dipahami, wilayah Medes berada di daerah sekitar Persia (Iran), yang keadaan alamnya, kurang lebih mirip dengan Babylon (Irak). Jadi sangat mengherankan pendapat yang menyatakan, Queen Amuhia merindukan suasana di Medes, terlebih lagi lokasinya tidak seberapa jauh dari Babylon.

Lokasi kampung halaman, Queen Amuhia masih penuh misteri. Beberapa sejarawan menduga, kampung halaman yang dimaksud tidak lain adalah Tanah Jawi (Nusantara), yang berada nun jauh disana serta penuh dengan pepohonan dan beraneka ragam bunga

Mengapa ada seorang Princess dari Medes, bisa bertempat tinggal di Jawi (Nusantara) ?
Mungkinkah ibunda Queen Amuhia, adalah puteri dari negeri Melayu ?

Queen Amuhia (Amytis of Media), sedari kecil telah akrab dengan suasana tropis di negeri yang subur, di kampung halaman ibunya…

Porselen Kuno dan Pelaut Nusantara

map ratu nusantara

Prof. Giorgio Buccellati, seorang arkeolog senior dari University of California-Los Angeles (UCLA), yang saat itu terkagum-kagum dengan sebuah temuannya. Ia menemukan sebuah porselen cekung, yang di atasnya terdapat fosil sisa-sisa tumbuhan cengkeh.

Buccellati saat itu tengah melakukan penggalian di atas tanah bekas rumah seorang pedagang yang berasal dari masa 1.700 SM di Terqa, Eufrat Tengah.

Sebagai pakar, Buccelatti mengetahui jika Cengkeh hanya bisa hidup di satu tempat di muka bumi, yakni di Kepulauan Maluku. Temuan inilah yang kemudian muncul termin Clove Route atau jalur perniagaan rempah-rempah Cengkeh bangsa Nusantara hingga sampai ke Fir’aun Mesir.

Temuan tersebut membuktikan kepada kita jika di masa sebelum masehi, di zaman para nabi-nabi, pelaut-pelaut Nusantara telah melanglang buana menyeberangi samudera dan menjalin hubungan dengan warga dunia lainnya.

Bahkan Dick-Read meyakini jika sistem pelayaran, termasuk perahu-perahu, dari para pelaut Nusantaralah yang menjadi acuan bagi sistem dan bentuk perahu banyak negeri-negeri lain di dunia. Keyakinan ini diamini oleh sejumlah arkeolog dan sejarawan senior seperti Dr. Roland Oliver (Sumber : Moyang Indonesia Ekspor Cengkeh, Kayu Manis dan Kapur Barus ke Fir’aun )

Sebuah manuskrip Yahudi Purba menceritakan sumber bekalan emas untuk membina negara kota Kerajaan Nabi Sulaiman (sekitar tahun 950SM), diambil dari sebuah kerajaan purba di Timur Jauh yang dinamakan Ophir.

Kemungkinan Ophir berada di Pulau Sumatera, yang dikenal sebagai “Pulau Emas” atau dalam bahasa sanskrit bernama “Swarna Dwipa” (Suvarnadvipa). Bahkan menurut informasi Pusat Kerajaan Minangkabau terletak di tengah-tengah galian emas. Emas-emas yang dihasilkan kemudian diekspor dari sejumlah pelabuhan, seperti Kampar, Indragiri, Pariaman, Tikus, Barus, dan Pedir (Sumber : PULAU-PULAU PALING BERSEJARAH DI INDONESIA)

Berdasarkan data arkeologis di atas, kepulauan Nusantara pada sekitar 600 SM, telah terdapat pusat-pusat perdagangan, baik itu di pulau Sumatera sampai ke Maluku. Diduga Queen Amuhia, bertempat tinggal di salah satu Pusat Perdagangan ini, untuk menemani kedua orang tuanya, yang menjadi konsul perdagangan bangsa Medes di Nusantara.

Amuhia, Leluhur Seribu Raja

Perkawinan antara King Nebuchadnezzar II dan Queen Amuhia, melahirkan seorang putera dan tiga orang puteri. Berdasarkan penyelusuran Genealogy, melalui zuriat salah seorang cucunya, yang bernama Nidintu-Bel (Prince) of Babylon (Nebuchadnezzar III of Babyon), kelak akan lahir para penguasa baik di negeri timur maupun barat.

Beberapa tokoh, zuriat Queen Amuhia

1. Maharaja Nusirwan ‘Adil, Leluhur Raja-Raja Melayu

Maharaja Nusirwan ‘Adil (Anushirvan/King Khosrow I “The Just” of Persia) bin Maharaja Kibad Syahriar (Kavadh I of Persia) bin Firuz II of Persia bin Yazdagird II of Persia bin Bahram V of Persia bin Yazdagird I of Persia bin Shapur III of Persia bin Shapur II “The Great” of Persia bin Ifra Hormuz binti Vasudeva of Kabul bin Vasudeva IV of Kandahar bin Vasudeva III of Kushans bin Vasudeva II of Kushans bin Kaniska III of Kushans bin Vasudeva I of Kushans bin Huvishka I of Kushans bin Kaniska of Kushanastan bin Wema Kadphises II of Kunhanas bin Princess of Bactria binti Calliope of Bactria binti Hippostratus of Bactria bin Strato I of Bactria bin Agathokleia of Bactriai binti Agathokles I of Bactriai bin Pantaleon of Bactria bin Sundari Maurya of Magadha binti Princess of Avanti binti Abhisara IV of Avanti bin Abhisara III of Pancanada bin Abhisara II of Taxila bin Abhisara I of Taxila bin Rodogune Achaemenid of Persia binti Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Andia (Andria) of Babylon (menikah dengan Artaxerxes I of Persia) binti Nebuchadnezzar IV of Babylon bin Nidintu-Bel (Prince) of Babylon (Nebuchadnezzar III of Babyon) bin Princess of Babylon binti Queen Amuhia

2. Shahrbānū, Ibunda Imam Ali Zainal Abidin (Bani Alawiyyin)

Shahrbānū (Shahr Banu, شهربانو, menikah dengan Imam Husein) binti Yazdigird III Sásání, King of Persia (16 June 632-651) bin Sharíyár Sásání, Sháh of Persia bin Khusraw II (Parvez) 22nd Sásání king of Persia bin Hormizd IV 21st Sásání king of Persia bin Maharaja Nusirwan ‘Adil (Anushirvan/King Khosrow I “The Just” of Persia) bin Maharaja Kibad Syahriar (Kavadh I of Persia) bin Firuz II of Persia… (lihat silsilah 1)

3. Basil (Basileos) I, Emperor of the Byzantine Empire

Basil I of Byzantine bin Konstantinos Porphyrogenitus of Adrianople bin Hmayeak of Adrianople bin Artavazd Mamikonian bin Hmyayeak Mamikonian bin Artavazd Mamikonian bin Hamazasp III Mamikonian of Armenia bin Dawith (David) Mamikonian bin Vahan II Mamikonian of Taron bin Mousegh Mamikonian bin Hmayeak Mamikonian bin Vard Mamikonian of Armenia bin General Hmayeak Mamikonian bin Sahakanoysh of Armenia bin Isaac I of Armenia bin Narses I of Armenia bin Athenagenes bin Chosroes III of Armenia bin Tiran (Helios) of Armenia bin Khusraw II of West Armenia bin Tiridat II of Armenia bin Khusraw I “the Brave” of Armenia bin Princess of Iberia binti Pharasmenes III of Iberia bin Rhadamiste I of Iberia bin Pharasmenes II of Iberia bin Amazaspus I of Iberia bin Mithradates I of Iberia bin Pharasmenes I of Iberia bin Princess of Iberia binti Pharnabazus I of Iberia bin Artaces I of Iberia bin Artaxias I of Iberia bin Artavasdes I of Iberia bin Tigranes I of Iberia bin Artaxias I of Armenia bin Zariadres I of Sophene bin Xerses I of Armenia bin Arsames I of Armenia bin Samos I of Armenia. bin Aroandes III of Armenia bin Mithranes I of Armenia bin Aroandes II of Armenia bin Rodogune Achaemenid of Persia binti Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Andia (Andria) of Babylon (menikah dengan Artaxerxes I of Persia) binti Nebuchadnezzar IV of Babylon bin Nidintu-Bel (Prince) of Babylon (Nebuchadnezzar III of Babyon) bin Princess of Babylon binti Queen Amuhia

4. Prince William, Duke of Cambridge

Prince William bin Prince Charles bin Queen Elizabeth II of England binti King George VI of England bin King George V of England bin King Edward VII of England bin Queen Victoria of England binti Duke Edward of Kent bin King George III of England bin Prince Frederick Lewis bin King George II of England bin King George I of England bin Princess Sophia binti Princess Elizabeth binti King James I of England bin Lord Henry Stuart bin Margaret Douglas binti Margaret Tudor binti Princess Elizabeth binti King Edward IV of England bin Duke Richard of York bin Earl Richard of Cambridge bin Duke Edmund of Langley bin King Edward III of England bin Isabelle binti Queen Jeanne I of Navarre binti Blanche binti Matilda binti Marie binti Irene binti Irene binti Theodora binti Irene binti Aspae binti Rusudan binti David IV of Georgia bin Giorgi II of Georgia bin Bagrat IV of Georgia bin Marie binti Sennacherib-John of Vaspurakan bin Abusahl-Hamazasp III of Vaspurakan bin Gagik II [Khatchik-Gagik] of Vaspurakan bin Sofie binti Ashot I “The Great” of Armenia bin Smbat III of Armenia bin Ashot IV “The Carnivore” of Armenia bin Dzovik binti Samuel II of Armenia bin Prince David bin Prince Hrahat bin Hamazasp III Mamikonian of Armenia bin Dawith (David) Mamikonian bin Vahan II Mamikonian of Taron.